Rendra: Sajak Bulan Mei 1998

Recent Raja Petra Coverage in Malaysiakini : (Raja Petra: ‘Rosmah at murder scene) and bloggers’ reaction

Ha, ha, can you believe this – Malaysiakini covered the news about Raja Petra Kamarudin’s statutory declaration – and then boom – the blogosphere exploded. Bloggers blog about it in droves: like nobody’s business.

Now it is not my intention to comment on the merits of Raja Petra Kamarudin’s statutory declaration or the Malaysiakini article – Raja Petra: ‘Rosmah at murder scene’ (http://www.malaysiakini.com/news/84823). Rather I would like to say that this phenomena or ‘event’ (I can’t seem to find a better word to describe it) reflects the “hero” worshipping tendencies of many Malaysians.

Why Raja Petra Kamarudin (RPK) has been given so much coverage by the bloggers? Ah yes.. not too long ago RPK has been dubbed as a ‘Legend’.

Well so much about him and the addiction of Malaysians to heroes…

“Sajak Bulan Mei 1998″…

A reader has asked me to give the full version of Rendra’s poem Sajak Bulan Mei 1998.

Here is it:

Rendra: “Sajak Bulan Mei 1998″

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.

This poem is available widely in the internet. I got this from Ariel Heryanto\’s Blog: http://blogs.arts.unimelb.edu.au/arielh/2008/05/29/rendra-sajak-bulan-mei-1998/

Now, back to RPK. Actually I had some sort of discussion with my friends when we were having coffee last night. The reception (or the reaction) of my friends towards RPK recent moves are mixed. Some totally agree, a few don’t and fewer still are sceptical. I suppose I fall under the sceptical category.

Why? Because I don’t believe that democracy will come automatically come with just a few people like RPK or others…

Democracy can only be anchored in society if ordinary people really believe in it…

I suppose I will stop now… will continue in future entries!

See these entries:

Wahai Pendukung-2 Demokrasi di Malaysia: Berhentilah mencari Ratu Adil!

Anwar Ibrahim, Rajawali, Ratu Adil dan Hukum Adil


About this entry